Pondok Legend
Fatwa Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap - Foto 1
Pondok Legend

Fatwa Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap

LEGENDNEWS - FATWA TUAN GURU SAYYIDI SYEKH MOH SAZLI HARAHAP مُدْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً MASUKLAH ISLAM SECARA KAFFAH! “Udkhulū fis-silmi kāffah” - P

Tim Yayasan13 Juni 2026
LEGENDNEWS - FATWA TUAN GURU SAYYIDI SYEKH MOH SAZLI HARAHAP

مُدْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
MASUKLAH ISLAM SECARA KAFFAH! 
“Udkhulū fis-silmi kāffah” - Perintah Allah, Bukan Pilihan!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah, menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
[QS. Al-Baqarah: 208]

LEGENDNEWS -   Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap, tatkala memimpin _tawajjuh_ yang dikelilingi ratusan muridnya, sering menitipkan wejangan emas; bahwa kita wajib percaya kepada yang ghaib, sebab di dalam Islam, mengimani yang ghaib adalah rukun yang pertama. Artinya, pondasi iman kita dimulai dari percaya pada hal yang tidak kelihatan mata, namun dahsyat kuasanya.  

Allah Ta‘ala berfirman:  
الم ۝ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ۝ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Alif Laam Miim. Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib...”_ [QS. Al-Baqarah: 1-3]  

Maka jelaslah: pelajaran Islam itu tidak hanya perkara yang nyata semata; ada pula pelajaran Islam yang bersifat abstrak, tersembunyi di balik tirai kasat mata, namun menyimpan kedahsyatan energi metafisika Ilahi yang luar biasa. Sederhananya, ada ilmu yang bisa dilihat dan dihitung, ada juga ilmu yang hanya bisa dirasa, diyakini, dan menggetarkan semesta. Ada syariat Islam, yakni pelajaran nyata yang mengatur gerak zahir; seperti cara shalat, puasa, dan muamalah. Ada pula pelajaran ghaib, yakni tasawuf, yang menyucikan gerak batin; seperti cara ikhlas, sabar, dan cinta kepada Allah.

Lihatlah sejarah para Nabi, para kekasih Allah. Di sanalah bukti energi ghaib metafisika Islam dipertontonkan:
Nabi Musa ‘alaihissalam, dengan tongkatnya membelah samudra menjadi dua; air yang tunduk, ombak yang taat. Allah berfirman:  
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” [QS. Asy-Syu‘ara: 63]  

Nabi Isa ‘alaihissalam, dengan izin-Nya menghidupkan orang mati, menyembuhkan yang buta, yang kusta.  
وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ
“Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit kusta, dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah.” [QS. Ali ‘Imran: 49]  

Nabi Sulaiman alaihissalam, menundukkan angin, berbicara dengan semut, memahami bahasa burung.  
وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ
“Dan dia berkata: ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung...’”[QS. An-Naml: 16]  

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dilempar ke api Namrud yang menganga, namun api itu menjadi dingin menyelamatkan.  
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” [QS. Al-Anbiya: 69]  

Itulah kekuatan ghaib metafisika Islam.* Bukan sihir, bukan khurafat, tapi energi Tauhid yang terpancar dari hati yang telah fana dalam Cinta-Nya. Energi yang tidak tunduk pada hukum fisika, sebab ia datang dari Kun Fayakun-Nya Allah.  

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  
إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ... وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya... Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.’”[HR. Bukhari]  

Inilah maqam para Aulia. Inilah buah dari tasawuf. Energi metafisika yang lahir dari munajat yang khusyuk, dari dzikir yang menghujam, dari hati yang telah berhampir pada Allah.

Islam pada lapisan luar dapat dibedah dengan ilmu fisika; ia tunduk pada dalil, qiyas, dan hukum-hukum indrawi, sehingga bisa dipelajari di bangku sekolah dan kitab. Akan tetapi, Islam pada lapisan dalam hanya dapat dikaji dengan ilmu metafisika Islam; ia menyentuh ruh, sirr, dan rasa yang tak terjangkau oleh timbangan akal semata, sehingga harus dipelajari dengan hati di bawah bimbingan guru yang Kamil mukamil.  

Oleh karena itu, tidaklah sempurna keislaman kita apabila hanya berhenti belajar Islam dari sisi luarnya saja; ia harus dilanjutkan, didalami, dan disempurnakan dengan belajar Islam dari sisi dalamnya pula, yaitu tasawuf. Yaitu teknik bermunajat, teknik berhampir pada Allah SWT, tempat seluruh energi ghaib itu bersumber. 

Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan dalam Hadits Jibril yang agung: tatkala ditanya tentang Islam, beliau menjawab tentang syariat; tatkala ditanya tentang Iman, beliau menjawab tentang akidah; dan tatkala ditanya tentang Ihsan, beliau bersabda:  
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ 
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” [HR. Muslim]  

Inilah Ihsan; inilah tasawuf; inilah ruh dari agama. Kalau syariat itu jasadnya ibadah, maka Ihsan inilah nyawanya. Jasad tanpa nyawa tentu mati. Ilmu tanpa energi ghaib tentu lumpuh.  

Karena hakikatnya, Islam itu berlapis-lapis: ada syariat, sebagai pintunya; masuk Islam harus lewat pintu ini. Ada tarekat, sebagai jalannya; setelah masuk, kita harus berjalan mengamalkannya. Ada hakikat, sebagai buahnya; dari jalan itu lahirlah buah akhlak mulia dan karamah. Dan ada ma‘rifat, sebagai puncaknya; di sanalah kita kenal Allah dengan sebenar kenal, tempat energi ghaib itu memancar. Empat tangga ini tak dapat dipisahkan; barangsiapa menafikan salah satunya, maka ia telah merobohkan bangunannya.  

Jadi, tidaklah cukup apabila kita belajar Islam hanya dari sisi luarnya saja, atau dari sisi syariatnya saja. Sebab, belajar syariat tanpa tarekat itu ibarat tahu alamat tapi tidak pernah berangkat. Ibarat punya tongkat tapi tidak pernah dipakai membelah lautan masalah. Sebab Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan firman-Nya yang Qath‘i = ayat Al-Qur'an  yang kebenarannya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi :
  
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً  
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah, menyeluruh...”[QS. Al-Baqarah: 208]  

Kaffah maknanya sempurna; menyeluruh maknanya zahir dan batin; syariat dan hakikat; fisika dan metafisika. Intinya, jangan puas hanya pandai hukum halal-haram, tapi lanjutkan dengan belajar jalan mendekat kepada Allah, yaitu tarekat, tempat tersimpannya rahasia energi ghaib para Nabi dan Aulia. Maka, berpeganglah pada keduanya, niscaya engkau tidak akan tersesat selama-lamanya.(*)
Kembali