Pondok Legend
PUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH - Foto 1
Pondok Legend

PUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH

PUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.COM - Di atas punggung Puncak Legend, tempat angin mengaja

Tim Yayasan17 Oktober 2026
PUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH

Oleh: Salman Rudy

PONDOKLEGEND.COM - Di atas punggung Puncak Legend, tempat angin mengajarkan zikir pada dedaunan, ada sebuah janji yang tak pernah ingkar tiap tahunnya.

Bukan janji musim, bukan pula janji manusia, melainkan janji rindu para santri untuk kembali pulang.

Dan tahun ini, janji itu kembali menjelma. Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil Alamin di Puncak Legend, Selobanteng, Banyuglugur, Situbondo, akan menggelar kembali Peringatan Hari Silsilah ke-91 HSS Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur Q.S.

Sebuah acara tahunan. Acara hari silsilah yang dirawat turun-temurun. Setiap tanggal 20 Oktober, para santri dari segenap penjuru Madura, Surabaya, Ponorogo, Probolinggo, hingga Situbondo  berhimpun, bukan karena diundang, melainkan karena terpanggil.

Di Puncak Gunung Legend, pada 20 Oktober 2026 nanti, mereka akan kembali duduk bersama. Menautkan hati, merajut silaturahmi, menghidupkan nilai Rahmatan Lil Alamin melalui pengabdian kepada Guru, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta.

Maka, panitia membuka pintu. Bahwa pengabdian itu tak melulu tentang harta. Ia bisa berupa tenaga, bisa berupa setetes keringat, bisa berupa sebutir beras, atau keikhlasan yang dikirim dari jauh.

Dan sungguh, sambutan itu telah datang laksana hujan pertama.

Hingga hari ini, tercatat sekitar seratus jiwa telah menitipkan cintanya. Terkumpul dana sebesar Rp12.840.000. Ada yang dari Madura mengirim doa dalam bentuk rupiah, ada yang dari Surabaya menitipkan harapannya.

Tak hanya uang, logistik cinta pun berdatangan. Seekor kambing dari Abang Zaenal Abidin sebagai kurban pengabdian. 25 kg. beras dari Jauhari dan Hj. Umi Atikah, gula 5 kilogram, minyak 5 liter, daging sapi, kerupuk udang, emping melinjo, pisang gajih, dan kelapa dari Abang Ayub.

Satu per satu bahan itu datang, seperti butiran tasbih yang dirangkai menjadi untaian.

Namun, masih ada ruang yang kosong. Masih ada nampan yang belum terisi, seperti kue sifon pandan untuk menjamu tamu, yang masih menunggu uluran tangan para santri.

Sebab begitulah acara tahunan ini dirawat: bukan oleh satu orang kaya, melainkan oleh gotong royong seratus hati yang ingin husnul khotimah bersama Guru.  (*)
Kembali