Pondok Legend
Dzikir Allah, Allah.. Menunda Kiamat - Foto 1
Pondok Legend

Dzikir Allah, Allah.. Menunda Kiamat

DZIKIR ALLAH… ALLAH.. MENUNDA KIAMAT Pelajaran dari Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap di Bumi Situbondo Di bawah langit Situbondo yang teduh, Tuan Gur

Tim Yayasan22 Juni 2026
DZIKIR ALLAH… ALLAH.. MENUNDA KIAMAT  
Pelajaran dari Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap di Bumi Situbondo

Di bawah langit Situbondo yang teduh, Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap hadir memimpin Tawajjuh bulanan; majelis yang tak sekadar pertemuan, melainkan taman ruhani bagi para pencari Tuhan.

Dalam fatwanya, beliau bertutur pelan namun menghujam:  
"Menyebut Allah… Allah… Allah di dalam qolbumu itu bukan perkara sepele; ia adalah benih kehidupan."

Perumpamaan beliau sederhana, tapi dalam maknanya:  
“Ia ibarat biji pepaya. Asal kau tanam dan kau pelihara, biji itu tidak akan diam. Ia akan tumbuh; di situ akan ada akar yang mencengkeram bumi, ada batang yang menegak ke langit, ada daun yang menaungi, ada bunga yang mewangi, dan pada waktunya, ada buah yang siap dihidangkan.”

Demikianlah dzikir Allah… Allah… Allah.  
Ia tampak kecil diucapkan, tapi besar di sisi Tuhan; ia ringan dilafalkan di qolbu, namun berat di timbangan amal. Sebab Allah sendiri telah berfirman:  

*الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ*  
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (Dzikirullah). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (Dzikirullah) hati menjadi tenteram.” [QS. Ar-Ra’d: 28]

Tuan Guru mengajarkan kepada kita satu rahasia langit:  
“Meskipun hanya Dzikir Allah… Allah… Allah… Allah, ia sanggup menunda kiamat.”

Sebab Rasulullah ﷺ telah bersabda:  
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ 
“Tidak akan terjadi kiamat sampai tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang menyebut: Allah, Allah.” [HR. Muslim no. 148]

Maka selama masih ada dada yang berdegup menyebut Nama-Nya, selama masih ada manusia yang berdzikir Allah… Allah, bumi ini masih diberi tangguh oleh Pemilik-Nya.

Lalu Tuan Guru menutup dengan mutiara ilmu:  
“Dzikir Allah… Allah… Allah… sebenarnya di dalamnya sudah terhimpun semua; ada syariatnya, ada tarekatnya, ada hakikatnya, dan ada makrifatnya. Ia adalah jalan paling pendek menuju Tuhan, bagi hati yang mau lurus dan tunduk.”

Siapa yang istiqamah menanam Allah di qolbunya, ia sedang menanam surga di dadanya. Akarnya adalah iman; batangnya adalah amal; bunganya adalah rindu; dan buahnya adalah (liqa’ Allah)perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Maka jangan remehkan sebutir biji dzikir. Karena dari sanalah tumbuh pohon keselamatan, yang akarnya menghujam ke Lauhul Mahfuzh, dan pucuknya menggapai ‘Arsy.

Begitu pentingnya dzikir, sehingga Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyaknya tanpa batas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” [QS. Al-Ahzab: 41-42]

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” [QS. Al-Ahzab: 35]

Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaannya:  
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ 
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” [HR. Bukhari no. 6407]

Allah… Allah… Allah…
Tanam, pelihara, dan lihatlah bagaimana Tuhan menumbuhkan ketenangan di tanah hatimu yang paling tandus sekalipun. Karena biji dzikir tak pernah salah alamat; ia selalu tumbuh menuju Allah, kunci selamat dunia dan akhirat. (*)
Kembali