Pondok Legend

Pondok Legend
Antara Deposit Tinggal 3 Hari dan Batu Sebesar Rumah
MENGUAK DI BALIK UBUDIYAH: SAAT EXCAVATOR DAN SANTRI MEMECAH BATU RAKSASA PENGHALANG JALAN Laporan Investigasi Harian LegendNews Jum’at, 19 Juni 2026 Selobanteng,Situ
Tim Yayasan19 Juni 2026
MENGUAK DI BALIK UBUDIYAH: SAAT EXCAVATOR DAN SANTRI MEMECAH BATU RAKSASA PENGHALANG JALAN
Laporan Investigasi Harian LegendNews
Jum’at, 19 Juni 2026
Selobanteng,Situbondo LegendNews
Matahari baru saja menanjak ketika deru mesin excavator memecah hening di kawasan Selobanteng, Jum’at 19/6. Pukul 07.00 tepat, alat berat itu langsung ditugaskan menghantam batu sebesar pos ronda yang menghadang mulut jembatan setelah melewati lahan jagung milik Pak Esdi.
Ini bukan proyek APBD. Bukan pula tender BUMN. Ini ubudiyah: kerja bakti ala santri yang dikemas dalam manajemen semi-profesional dengan target berpacu waktu.
Kronologi: Berpacu dengan Deposit 3 Hari
Penelusuran LegendNews menunjukkan, kegiatan hari ini merupakan lanjutan dari agenda Kamis 18/6: pengumpulan batu untuk pondasi jembatan di sekitar sungai. Namun prioritas kini berubah.
“Kalau urusan tampolong yang kita urus, nanti makan banyak waktu. Sementara deposit sudah tinggal 3 hari,” tegas Ahmad Harapan, salah satu koordinator lapangan. Target 3 hari ke depan jelas: memusnahkan batu sebesar pos ronda yang menghadang di mulut jembatan, dan batu sebesar rumah di ujung jalan di puncak Legend.
Uniknya, tukang bangunan justru diliburkan Jum’at–Sabtu. “Minggu masuk. Dan jika sudah banyak batu terkumpul, maka hari Minggu akan dilaksanakan peletakan batu pertama,” informasi panitia. Artinya, tahap krusial penghancuran batu justru dikerjakan santri, bukan tenaga upahan.
Fakta di Lapangan: Pembagian Kerja Sistematis
Berdasarkan jadwal yang diperoleh LegendNews, ada stratifikasi tugas yang jelas:
07.00–15.00: Pengawal excavator wajib standby sesuai jam kerja alat berat. “Amanah alat harus dijaga. Biaya sewa Excavatornya dari salah satu santri,” kata Pak Mogik, pelaksana proyek, saat ditemui di lokasi.
08.00–selesai: Pemecahan batu besar di atas jembatan sisi Utara menggunakan breaker excavator. Fokus utama: batu sebesar pos ronda.
Sebelum Adzan Jum'atan Berkumandang:
Excavator naik ke puncak Legend, melanjutkan pemecahan batu raksasa di ujung tanjakan puncak Legend. Target: batu sebesar rumah.
Paralel: Santri non-operator excavator mengangkut pecahan batu manual. “Excavator kerja, pecahkan batu besar yang menghadang jalan,” bunyi instruksi.
Logistik: Santri wanita menangani konsumsi. “Lokasi kerja cukup panas,” info panitia.
Suara dari Yayasan: "Ini Kurikulum Pengabdian"
Ketua Yayasan Pondok Legend, Kyai Heriyanto, menegaskan bahwa ubudiyah bukan sekadar kerja bakti.
“Ini kurikulum pengabdian. Santri tidak hanya diajar kitab, tapi diajar memecah batu penghalang. Ikhlas itu landasan amal. Kalau landasannya tidak kuat, bangunan setinggi apa pun akan ambruk,” ujarnya kepada LegendNews, Kamis 18/6.
Kyai Heriyanto menambahkan, pelibatan excavator adalah bentuk _ijtihad infrastruktur_. “Zaman dulu pakai cangkul karena hanya itu yang ada. Sekarang ada excavator, ya kita gunakan untuk meratakan jalan. Kaidahnya _al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah_. Jaga tradisi baik, ambil hal baru yang lebih maslahat.”
Pandangan Kemenag Jatim: "Model Pemberdayaan Pesantren"
Kepala Bidang PD Ponpes Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, H. Imam Turmidi, S.Ag., M.HI., menilai model Pondok Legend layak jadi percontohan.
“Yang dilakukan Pondok Legend ini adalah community development berbasis pesantren. Ada tiga unsur kuat: pertama, kemandirian. Kedua, gotong royong lintas usia dan gender. Ketiga, kepemimpinan kyai yang transformatif,” kata H. Imam Turmidi saat dihubungi terpisah.
Ia menyoroti aspek disiplin 07.00–15.00 untuk pengawal excavator. “Ini menarik. Pesantren sering dicap tidak disiplin waktu. Tapi di sini, jam kerja alat berat ditaati seperti jam pabrik. Artinya ada integrasi antara nilai _ubudiyah_ dengan manajemen modern. Ini yang kami dorong di program Kemandirian Pesantren.”
H. Imam Turmidi juga mengapresiasi transparansi: “Sewa excavator dari infak 1 santri, tenaga dari santri, hasil untuk umat. Selama akuntabel dan tidak eksploitatif, ini sah sebagai _amal jariyah_.”
Telaah: Filosofi di Balik “There Are No Days Off In Dedication”
Investigasi _LegendNews_ menemukan tiga mantra yang berulang dalam setiap ubudiyah Pondok Legend:
1. YOUR ACTION is YOUR EVIDENCE – Tindakanmu adalah buktimu.
2. YOUR DONATION is YOUR SUPPORT – Sumbanganmu adalah bentuk dukunganmu.
3. THERE ARE NO DAYS OFF IN DEDICATION – Tidak ada hari libur didalam pengabdian.
“Ini bukan sekadar slogan. Ini sistem nilai yang menggerakkan ratusan orang tanpa upah,” ujar Dr. Ahmad Zainuddin, sosiolog agama dari UINSA, yang kami mintai pendapat. Menurutnya, pola ini mirip _gugur gunung_ versi pesantren modern: menggabungkan militansi santri dengan manajemen proyek.
Analisis Kepemimpinan: Sentralisasi pada Figur "Bapak" sebagai Penguat
Dokumen internal menyebut: “Rencana ini bisa berubah sewaktu-waktu jika ada petunjuk baru dari Bapak.”
Sumber internal menyebut figur tersebut adalah Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap, Pembina Pondok Legend.
Model pengambilan keputusan ini menunjukkan karakter kepemimpinan kharismatik yang justru menjadi kekuatan utama. Dr. Ahmad Zainuddin menilai, sentralisasi pada figur Tuan Guru terbukti efektif dan menguntungkan. “Dalam struktur pesantren, _trust_ pada kyai itu modal sosial terbesar. Ketika ‘Bapak’ memberi arahan, seluruh elemen bergerak satu komando. Tidak ada debat panjang, tidak ada tarik ulur kepentingan. Ini yang membuat target ‘deposit 3 hari’ jadi realistis,” jelasnya.
Zainuddin menambahkan, kepemimpinan seperti ini justru meminimalisir risiko konflik internal dan pemborosan waktu. “Selama figur sentral visioner dan tetap membina kader pelapis, sentralisasi ini adalah _blessing_, bukan _risk_. Buktinya puluhan infrastruktur di Legen bisa berdiri tanpa APBD. Itu hasil dari satu suara, satu gerak, di bawah bimbingan Tuan Guru.”
Dampak: Infrastruktur Pesantren Berbasis Swadaya
Jembatan kecil di jagung Pak Esdi akan menjadi akses vital santri dan warga. Penghalang utamanya saat ini adalah dua batu raksasa yang harus dimusnahkan dalam 3 hari.
Data yang dihimpun _LegendNews_, pola ubudiyah seperti ini telah menghasilkan puluhan titik infrastruktur di Legen: jalan, talud, hingga gedung majelis. Semua tanpa proposal ke pemerintah. “Dana dari jemaah, tenaga dari santri, restu dari guru,” kata Pak Mogik.
Tema: Ubudiyah Bahagia Bersama Keluarga & Sahabat
Panitia menekankan aspek kekeluargaan. Di lokasi, terlihat santri pria mengarahkan breaker, santri wanita membawa nampan es teh, anak-anak membantu mengangkut kerikil pecahan batu. _#THE LEGEN'S VOICE_ atau _Suara Legen_ menjadi _tagline_ pemersatu.
Penutup: Antara Voluntarisme dan Efisiensi
Model Pondok Legend membalik logika pembangunan konvensional: tukang libur saat fase berat, santri turun saat fase penghancuran batu. Efisienkah? Dari sisi biaya, ya. Dari sisi beban fisik santri, perlu kajian ergonomi.
Namun satu hal yang tak terbantahkan di lapangan Jum’at ini: excavator boleh menyala, tapi yang menumbangkan batu sebesar rumah adalah apa yang mereka sebut “niat”. Dan niat, dalam kamus Legen, tidak mengenal hari libur. (Rudy)
Tim Investigasi LegendNews
Baca Juga
Pondok LegendPUNCAK LEGEND GELAR DUA FORUM ILMIAH, BAHAS METAFISIKA AL-QUR’AN DAN PENGOBATAN
PUNCAK LEGEND GELAR DUA FORUM ILMIAH, BAHAS METAFISIKA AL-QUR’AN DAN PENGOBATAN Oleh: Salman Rudy...
18 Oktober 2026
Pondok LegendKURANGI MAKAN, KURANGI TIDUR, PERBANYAK DZIKIR: WASIAT PAGI DI HARI KE-8 SULUK SILSILAH KE-91
KURANGI MAKAN, KURANGI TIDUR, PERBANYAK DZIKIR: WASIAT PAGI DI HARI KE-8 SULUK SILSILAH KE-91 Oleh:...
17 Oktober 2026
Pondok LegendPUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH
PUNCAK LEGEND: JEJAK TAHUNAN MENJAGA SILATURAHMI DAN CAHAYA SILSILAH Oleh: Salman Rudy...
17 Oktober 2026
