Artikel
TIDAK BERANI MERUBAH DAN TIDAK AKAN DIRUBAH - Foto 1
Artikel

TIDAK BERANI MERUBAH DAN TIDAK AKAN DIRUBAH

TIDAK BERANI MERUBAH DAN TIDAK AKAN DIRUBAH Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.COM, SITUBONDO - Di tengah ramainya perdebatan mazhab dan

Tim Yayasan22 Juli 2026
TIDAK BERANI MERUBAH DAN TIDAK AKAN DIRUBAH

Oleh: Salman Rudy

PONDOKLEGEND.COM, SITUBONDO -  
Di tengah ramainya perdebatan mazhab dan kelompok dalam Islam, penggagas  Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam, Rahmatan lil Alamin Puncak Legend, Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap, mengingatkan jamaahnya untuk kembali pada prinsip dasar: waspada, rendah hati, dan istiqamah.

Pesan itu ia sampaikan dengan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW tentang perpecahan umat.

DASAR UCAPAN: HADITS ISLAM PECAH 73 GOLONGAN

Hadits yang sering dikutip Tuan Guru Moh Sazli itu memang masyhur di kalangan umat Islam:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan." HR. Tirmidzi

Penjelasan Ulama tentang Hadits ini  

Terkait derajat hadits, Imam Tirmidzi sendiri menyatakan shahih. Imam Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Albani juga menshahihkan. Memang ada ulama yang mendhaifkan dari sisi sanad tertentu, tapi jumhur ulama hadits menerima hadits ini sebagai peringatan.

Adapun maksud "73 Golongan" bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai peringatan agar umat berhati-hati. Perpecahan itu, menurut para ulama, terjadi karena hawa nafsu, bid'ah, dan jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah.

JAWABAN BIJAK: " KAMI TIDAK BERANI MERUBAH "

Lalu, golongan yang mana yang benar?  
Pertanyaan itu dijawab Tuan Guru Moh Sazli dengan kalimat yang menenangkan:

"Kami Tidak Tahu Pasti Yang Benar Yang Mana?"

" Tapi yang kita kerjakan tidak berani merubah dan tidak akan dirubah sejak Abu Bakar as Siddiq hingga saat ini. "

Bagi Tuan Guru, kalimat itu adalah inti dari manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah.

Maknanya ada 3:

1.  Tawadhu' / Tidak Mengaku Paling Benar  
    Tuan Guru menegaskan tidak pernah memvonis "kami satu-satunya yang masuk surga". Itu adab. Karena yang menentukan selamat atau tidak hanya Allah.

2.  Istiqamah di Atas Jalan Salaf  
    Kunci "1 golongan yang selamat" menurut hadits lain adalah:  
    "ما أنا عليه وأصحابي"
    "Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya" HR. Tirmidzi  
    Karena itu, pesantren memilih jalan aman: mengamalkan apa yang diamalkan sejak zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar, Utsman, Ali, Tabi'in, 4 Imam Madzhab, hingga ulama hari ini. Tidak menambah, tidak mengurangi.

3.  Prinsip "Tidak Berani Merubah"  
    Ini bentuk wara'. Takut. Karena agama ini sudah sempurna.  
    Allah berfirman: "الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ"
    "Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu" (QS. Al-Maidah: 3)  
    Jadi tugas umat bukan "berinovasi dalam aqidah dan ibadah", tapi Menjaga dan Mengamalkan.

3 PESAN UNTUK UMAT AKHIR ZAMAN

Dari pengajaran itu, Tuan Guru Sazli menitipkan 3 pesan:

1. Waspada 
Hadits 73 golongan mengingatkan: jangan ikut-ikutan. Pelajari agama dari guru yang sanadnya jelas, amalannya jelas.

2. Rendah Hati 
"Kami tidak tahu pasti" artinya tidak sombong, tidak mudah mengkafirkan, tidak mudah membid'ahkan. Hak menghakimi diserahkan kepada Allah.

3. Istiqamah
"Tidak berani merubah" artinya berpegang teguh pada Al-Qur'an, Sunnah, Ijma' Sahabat, dan Qiyas Ulama. Inilah As-Sawadul A'zham = Kelompok Mayoritas Umat.

Singkatnya, Tuan Guru mengajak umat untuk "aman".  
Ibarat di persimpangan 73 jalan, beliau berpesan:  
"Saya tidak berani tunjuk jalan A atau B. Tapi saya pilih jalan yang sudah dilalui Abu Bakar, Umar, dan para ulama kita. Jalan itu paling terang dan paling banyak dilalui orang shalih."

PUNCAK LEGEND:     PONDOK ORANG BERTAUBAT

Di akhir tausiyahnya, Tuan Guru mengingatkan identitas pesantren yang ia bina.  
Pondok kita ini Pondok orang Bertaubat. Maka manhaj kita pun manhaj taubat:  
Kembali kepada apa yang diajarkan Nabi dan Sahabat.
Tidak Melebih-lebihkan. Tidak mengurangi.

"Karena di akhir zaman, yang paling dibutuhkan bukan debat 'siapa paling benar'. Tapi siapa yang paling istiqamah menjaga sunnah," pungkasnya.

Ia menutup dengan doa:  
اللهم اجعلنا من الفرقة الناجية 
"Ya Allah jadikan kami termasuk golongan yang selamat".  (*)
Kembali