oleh : Salman Rudy
SITUBONDO, PONDOKLEGEND.COM - Nama Puncak Legend Selobanteng kini dikenal luas sebagai oase spiritual yang meneduhkan. Di balik transformasi bukit yang dulunya dihindari karena keangkerannya ini, ada sosok ulama sufi kontemporer yang mendedikasikan hidupnya untuk umat dan alam. Beliau adalah Sayyidi Syekh Tuan Guru Moh. Sazli Harahap Aminiyah Al-Ubudiyah, Mursyid ke-37 Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah Ubudiyah.
Berikut adalah rekam jejak perjalanan hidup, penempaan spiritual, hingga karomah nyata beliau dalam membangun peradaban ruhani.
Isyarat Kemuliaan Sejak Masa Kecil
Lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 25 Desember 1969, Tuan Guru Moh. Sazli merupakan putra dari pasangan Bapak Nursa'id seorang Pegawai Negeri Sipil yang pernah mengemban amanah sebagai Lurah Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram dan Ibu Siti Nafisah.
Sejak usia Sekolah Dasar, tanda-tanda inayah dan perlindungan Allah telah tampak nyata pada diri beliau hingga membuat masyarakat sekitar terheran-heran. Salah satu peristiwa yang paling membekas adalah ketika beliau hendak dikhitan; atas kuasa Allah, tubuh beliau menunjukkan kekebalan yang tidak lazim sehingga pisau khitan tidak mampu menggoresnya. Setelah melalui ritual doa dan ikhtiar khusus dari orang tuanya, proses khitan akhirnya dapat berjalan dengan selamat.
Tak hanya itu, sejak kecil beliau juga dikenal tidak mempan terhadap sengatan lebah, kalajengking, maupun binatang berbisa lainnya. Peristiwa-peristiwa tak biasa ini menjadi isyarat awal bahwa kelak beliau akan memikul amanah besar di jalan dakwah.
Menuntut Ilmu dan Titik Balik Spiritual di Kota Malang
Pada tahun 1989, Moh. Sazli merantau ke Kota Malang, Jawa Timur, untuk menempuh pendidikan tinggi di jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Namun, takdir Allah membawanya melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar ilmu duniawi.
Pintu hidayah spiritual terbuka lebar pada tahun 1992 ketika beliau diperkenalkan dengan dunia tarekat. Beliau kemudian dibaiat langsung oleh Sayyidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, M.Sc (Mursyid ke-35), seorang ulama besar sekaligus intelektual muslim yang dikenal ahli di bidang kimia dan fisika.
Melihat potensi besar pada diri sang murid, hanya berselang setahun (1993), Prof. Kadirun Yahya mengangkat Moh. Sazli sebagai Khalifah/Petoto pemegang amanah untuk pengamalan, pembimbingan, dan pengajaran tarekat. Melalui kedekatan inilah, beliau mulai mewarisi kedalaman ilmu hikmah serta Teknologi Energi Al-Qur’an Metafisika Islam.
Fase Penempaan Keras di Bawah Mursyid ke-36
Ujian dan penempaan spiritual Sayyidi Syekh Moh. Sazli Harahap berlanjut ketika Mursyid ke-35 wafat pada tahun 2001. Estafet kemursyidan kemudian dilanjutkan oleh Sayyidi Syekh H. Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur Harahap sebagai Mursyid ke-36.
Di bawah bimbingan beliau, karakter ruhani Sayyidi Syekh Moh. Sazli Harahap digembleng dengan sangat disiplin dan keras melalui rangkaian suluk. Terkenal karena ketaatan serta ketawadhuannya yang mutlak, ia tidak pernah menawar atau mempertanyakan setiap titah sang guru.
Dedikasi, keikhlasan, dan keteguhan hati tersebut berbuah manis. Sayyidi Syekh Moh. Sazli Harahap secara resmi diangkat sebagai Pentawajjuh (otoritas memimpin dzikrullah). Tak lama berselang, ia dipercaya menjadi Pentarekat yang memberinya hak untuk membaiat jemaah Thariqoh Naqsyabandiyah. Bersamaan dengan momen sakral itu, gelar "Harahap" disematkan di belakang namanya. Langkah spiritualnya kian paripurna saat ia menerima ijazah Pembawa Suluk untuk memimpin i'tikaf, hingga akhirnya dianugerahi gelar tertinggi, Sayyidi Syekh, langsung dari sang guru sebagai pengakuan atas kapasitas rohaninya.
Menundukkan Keangkeran Bukit Legend Selobanteng
Karomah dan ketajaman spiritual Sayyidi Syekh Moh. Sazli semakin nyata saat beliau mulai berdakwah mandiri. Selain dikenal luas memiliki keahlian mengobati berbagai penyakit melalui metode Teknologi Energi Al-Qur’an Metafisika Islam, karomah monumental beliau adalah saat menundukkan Bukit Legend di kawasan Selobanteng.
Dahulu, bukit ini sangat kesohor akan keangkerannya. Masyarakat dari lima desa sekitar Desa Selobanteng, Desa Tepos, Desa Talempong, Desa Curah Temu, dan Desa Tambak Ukir mengakui tempat tersebut kerap memakan korban, sehingga tidak ada satu pun warga yang berani mendekat.
Namun, lewat zikir, keberkahan sanad, dan izin Allah, kedatangan Sayyidi Syekh Moh. Sazli Harahap mampu mengubah total atmosfer tempat tersebut. Energi negatif dan "penghuni" gaib bukit berhasil ditundukkan. Tempat yang dulunya menakutkan kini telah menjelma menjadi Madrasah Ruhani dan pusat Riyadhah yang dirindukan oleh para pencari kedamaian jiwa.
Estafet Kemursyidan ke-37 dan Segel Marga "Harahap"
Tahun 2012 menjadi momentum sakral bagi tarekat ini. Pasca-wafatnya Sayyidi Syekh H. Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur Harahap, berdasarkan isyarat spiritual para masyayikh, Sayyidi Syekh Moh. Sazli resmi diamanahkan menjadi Mursyid ke-37.
Dalam tradisi tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, pemberian nama marga guru kepada murid bukan sekadar formalitas, melainkan simbol sah sebagai "anak kerohanian", pewaris ruhani, sekaligus segel tersambungnya sanad suci secara lahir dan batin. Sejak saat itu, lengkaplah nama beliau menjadi Sayyidi Syekh Tuan Guru Moh. Sazli Harahap.
Aktualisasi Dakwah: Mercusuar Rahmatan Lil ‘Alamin
Kini, di bawah bimbingan langsung Sayyidi Syekh Tuan Guru Moh. Sazli Harahap, Puncak Legend Selobanteng telah berdiri tegak menjadi Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Lembaga ini mengintegrasikan dua pilar pengabdian nyata:
1. Pondok Pesantren Lansia: Menjadi rumah akhir yang teduh bagi para lansia untuk fokus beribadah, berzikir, dan bersuluk demi menjemput akhir hayat yang husnul khotimah.
2. Pusat Rehabilitasi Jiwa dan Alam: Menjadi tempat pemulihan bagi penyakit jasmani maupun jiwa-jiwa yang lelah akibat urusan duniawi agar kembali ke fitrahnya, sekaligus menjadi pusat gerakan pemulihan alam dan lingkungan sekitar.
Hingga hari ini, Sayyidi Syekh Tuan Guru Moh. Sazli Harahap terus konsisten membimbing umat dengan zikir dan akhlakul karimah, membuktikan bahwa sanad keilmuan bukan sekadar catatan di atas kertas, melainkan cahaya yang hidup dan membawa manfaat nyata bagi seluruh alam.
اللَّهُمَّ احْفَظْهُ وَطَوِّلْ عُمْرَهُ فِي طَاعَتِكَ وَانْفَعْنَا بِعُلُومِهِ
“Ya Allah, jagalah beliau, panjangkan umurnya dalam ketaatan kepada-Mu, dan berilah kami manfaat dari ilmunya.” Aamiin.