Artikel
"Matikan Dirimu Sebelum Mati": Pelajaran dari Pos Dzikir Situbondo - Foto 1
Artikel

"Matikan Dirimu Sebelum Mati": Pelajaran dari Pos Dzikir Situbondo

"Matikan Dirimu Sebelum Mati" : Pelajaran dari Pos Dzikir Situbondo Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.com - Di zaman yang menakar manusia dari saldo, status, dan s

Tim Yayasan13 September 2026
"Matikan Dirimu Sebelum Mati" : Pelajaran dari Pos Dzikir Situbondo

Oleh: Salman Rudy

PONDOKLEGEND.com - Di zaman yang menakar manusia dari saldo, status, dan sorotan, saya ditampar oleh satu kalimat: “Matikan dirimu sebelum mati.”

Ia tidak lahir dari panggung seminar. Ia lahir di tengah tawajjuh. Di Pos Dzikir Situbondo. Di antara lantunan Allah... Allah... dan pundak-pundak yang berguncang menahan isak. 

Ini bukan ajakan untuk mati. Ini ajakan paling waras untuk hidup.

Wasiat yang Terlupakan

Hadits itu tua. Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya :  
"مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا"
“Matilah kalian sebelum kalian mati.”

Keras di telinga. Tapi lembut maknanya. 

Yang dimatikan bukan napas. Yang dimatikan adalah ego. Tamak. Haus dipuji. 

Allah sudah mengingatkan sejak awal: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ “Setiap yang bernyawa pasti merasakan mati.” QS. Ali Imran: 185.  
Pejabat, konglomerat, influencer, santri. Antriannya sama.

Maka pertanyaannya bukan "kapan mati". Tapi "dalam keadaan apa kita mati"?  
Apakah kita mati dengan membawa seribu utang riya? Atau mati dengan hati yang sudah bersih?

Imam Al-Ghazali menulis di Ihya : “Mengenal diri dimulai dengan mematikan tuntutan diri.” 
Selama ini kita sibuk mengenalkan diri ke dunia. Tapi lupa mengenalkan diri kepada Tuhan. Dan di situlah letak lelahnya hidup.

Tiga Paku yang Harus Dicabut

Malam itu, saya mencatat tiga hal yang wajib kita "kubur" selagi hayat masih dikandung badan.

Pertama, matikan cinta pujian. 
Kita bekerja seolah KPI kita adalah like, view, dan tepuk tangan. Padahal Allah berfirman: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56.  
Bukan untuk dipuja manusia.

*Kedua, matikan tamak dunia.*  
Nabi ﷺ berpesan: “Jadilah di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.” HR. Bukhari.  
Ambil secukupnya. Karena di liang lahat nanti, tidak ada harta yang ikut. Hanya amal.

Ketiga, matikan "aku".
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata: “Matikan dirimu dari makhluk, maka kamu akan hidup bersama Al-Khaliq.”
Ini yang paling berat. Mematikan gengsi. Mematikan rencana yang memaksa Tuhan. Mematikan kebutuhan untuk selalu benar, bahkan di grup keluarga.

Tawajjuh: Latihan Pulang

Yang paling saya ingat adalah penutupnya.

Tuan Guru Moh Sazli Harahap berpesan lirih: “Latihlah mati setiap malam. Agar ketika malaikat maut datang, kita menyambutnya seperti tamu lama. Karena kita sedang pulang.”

Dzikir dan tawajjuh adalah simulasi itu. Pejamkan mata. Tanggalkan nama. Tanggalkan jabatan. Tanggalkan saldo. 
Yang tersisa hanya kita dan Allah.

Syekh Ahmad At-Tijani pernah berkata: “Barangsiapa merasakan manisnya mati sebelum mati, maka ia tidak akan takut dengan kematian.”

Benar. Orang yang sudah berlatih "mati" tiap malam, saat maut menjemput, ia tidak panik. Ia tersenyum. Karena pintunya sudah terbuka.

Dunia menyuruh kita mengejar. Para wali mengajari kita melepaskan.

Maka malam ini, matikan amarah. Matikan dengki. Matikan cinta dunia. 
Agar saat dipanggil, kita bisa menjawab dengan tenang:  
“Ya Allah, aku pulang.” (*)
Kembali