Artikel

Artikel
Jangan Tanya Mengapa, Patuh Saja: Nasihat Tuan Guru
JANGAN TANYA MENGAPA ?, PATUH SAJA ! Oleh: Salman Rudy Islamic Training Center Pondok Pesantren Lansia Puncak Legend SITUBONDO, PONDOKLEGEND.COM - Di tengah hiru
Tim Yayasan14 Juli 2026
Oleh: Salman Rudy
Islamic Training Center Pondok Pesantren Lansia Puncak Legend
SITUBONDO, PONDOKLEGEND.COM - Di tengah hiruk pikuk dunia yang serba cepat, ada sebuah fatwa sederhana yang lahir dari ketinggian Puncak Legend, Situbondo. Fatwa itu hanya dua kata. Tapi dua kata itu cukup untuk mengguncang jiwa: TAQWA = PATUH.
Fatwa itu disampaikan oleh Sayyidi Syeikh Moh Sazli Harahap, Pimpinan Islamic Training Center Pondok Pesantren Lansia Puncak Legend. Bagi beliau, agama tidak rumit. Agama adalah kepatuhan.
"Menjalankan segala perintah Allah, itulah yang dinamakan Taqwa. Hakikat Taqwa adalah 'Kepatuhan'. Patuh melaksanakan apa yang diperintahkan, dan patuh meninggalkan apa yang dilarang," tegas beliau dalam tausiyahnya.
Intensif: Memberi yang Terbaik, Bukan Sisa
Pilar pertama dari fatwa ini adalah Intensif Beribadah. Menurut Tuan Guru Moh Sazli, ibadah yang dikerjakan setengah-setengah tidak akan membuahkan hasil maksimal.
"Ibadah yang diperintahkan Allah hendaknya diikuti dengan intensif dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh," ujarnya.
Untuk menjelaskan ini, beliau mengangkat teladan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA. Saat Perang Tabuk, ketika Rasulullah ﷺ meminta sumbangan, para sahabat menyumbang setengah hartanya. Abu Bakar justru membawa seluruh hartanya.
Ketika ditanya, "Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?" Jawab Abu Bakar singkat: "Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya." [HR. Abu Dawud]
" Itulah intensif. Memberi bukan sisa, tapi yang terbaik," kata Tuan Guru Moh Sazli.
Pandangan ini diperkuat oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam kitab Al-Fathur Rabbani: "Jangan engkau duduk menunggu datangnya karamah. Sibukkan dirimu dengan ibadah. Karena karamah adalah akibat, bukan tujuan."
Senada, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengumpamakan ibadah seperti mengasah cermin. "Semakin sering diasah dengan dzikir, sholat, dan khidmah, semakin bening ia memantulkan cahaya Allah."
Al-Qur'an pun mengingatkan: "Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." [QS. Al-Muzzammil: 8]
Patuh = Tunduk Tanpa Syarat
Pilar kedua adalah hakikat Taqwa itu sendiri: Patuh. Bukan patuh karena mengerti, tapi patuh karena cinta.
Gelar Ash-Shiddiq pada Abu Bakar, kata Tuan Guru, bukan karena banyaknya rakaat. Tapi karena satu sikap: langsung percaya saat mendengar berita Isra Mi'raj.
`إِنْ كَانَ قَالَهُ فَقَدْ صَدَقَ` - "Jika beliau yang mengatakannya, maka sungguh benar." [HR. Bukhari]
"Patuh dulu. Baru paham kemudian," tegasnya.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Al-Ghunyah menulis: "Pondasi segala maqam adalah 3: Taubat, Taqwa, Istiqamah. Taqwa itu adalah menjaga diri dari melanggar perintah Allah, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi." Bagi beliau, wali bukan yang bisa terbang. Wali adalah yang paling patuh syariat.
Abu Yazid Al-Busthami, Sultanul Arifin, merumuskan lebih dalam: "Tiga puluh tahun aku mencari Allah dengan sholat dan puasa. Tiga puluh tahun berikutnya aku baru mengerti: Taqwa adalah tunduk pada perintah-Nya sedetikpun tanpa bertanya 'mengapa'."
Sementara Jaluddin Rumi dalam Matsnawi menasihati dengan puitis: "Jangan tanya jalan menuju Allah. Jadilah jalannya. Patuhlah. Bergeraklah. Karena sungai yang diam akan menjadi rawa, dan hati yang diam akan menjadi keras."
Allah menjanjikan: `وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ` - "Mereka itulah orang-orang yang menang." [QS. An-Nur: 52]
Dan Allah menegaskan puncak kemuliaan itu:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ`
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu." [QS. Al-Hujurat: 13]
Artinya jelas. Jabatan, harta, nasab tidak membuat mulia. Yang membuat mulia adalah satu: Taqwa=Patuh.
Semampu: Allah Melihat Usaha, Bukan Hasil
Pilar terakhir adalah rahmat. Allah tidak membebani di luar kemampuan.
"Sesungguhnya Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Allah memerintah sesuai kadar kemampuan. Maka kerjakanlah semampu kita," kata Tuan Guru.
Lagi-lagi Abu Bakar menjadi contoh. Di akhir hayat, dalam keadaan sakit, beliau tetap sholat, puasa, dan mengurus umat. Saat ditanya, beliau menjawab: "Aku malu kepada Allah jika sehari saja tidak ada amal yang kupersembahkan."
Syeikh Abdul Qadir dalam Futuhul Ghaib menenangkan: "Wahai hamba, jika engkau lemah maka jangan tinggalkan pintu Allah. Masuklah dengan merangkak. Jika tidak bisa merangkak, masuklah dengan hatimu. Karena Allah melihat usahamu, bukan hasilmu."
Imam Al-Ghazali menambahkan: "Allah tidak menuntut kesempurnaan darimu. Allah menuntut kejujuran usahamu."
Untuk menguatkan, Tuan Guru menutup dengan kisah burung pipit. Burung kecil yang meneteskan air ke api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Ia tahu tetesannya tidak akan memadamkan api. Tapi ia tetap terbang. Karena ia yakin Tuhannya melihat niat dan geraknya.
"Inilah ruh `مَا اسْتَطَعْتُمْ` - semampu, tapi jangan pernah berhenti, untuk berbuat" pungkasnya. *(_)*
Baca Juga
ArtikelBELAJAR BERHENTI MENCARI VALIDASI ORANG LAIN
BELAJAR BERHENTI MENCARI VALIDASI ORANG LAIN Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.COM — Pernahkah kita...
31 Oktober 2026
ArtikelBAHASA BISA SETINGGI LANGIT, AKHLAK TETAP DIUJI DI BUMI
BAHASA BISA SETINGGI LANGIT, AKHLAK TETAP DIUJI DI BUMI Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.COM — Kadang...
28 Oktober 2026
ArtikelSANTRI LEGEND DAN JIHAD HARTA
SANTRI LEGEND DAN JIHAD HARTA Ketika Dzikir Harus Berwujud Pengabdian Oleh: Salman Rudy...
27 Oktober 2026
