Artikel
Berguru ke Abu Yazid Al Busthami - Foto 1
Artikel

Berguru ke Abu Yazid Al Busthami

Obrolan Tengah Malam Tuan Guru dan Muridnya di Teras Pesantren Puncak Legend Oleh: Salman Rudy PONDOKLEGEND.COM Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap:&n

Tim Yayasan27 Juni 2026


Obrolan Tengah Malam Tuan Guru dan Muridnya di Teras Pesantren Puncak Legend

Oleh: Salman Rudy 

PONDOKLEGEND.COM

Tuan Guru Sayyidi Syaikh Moh. Sazli Harahap:  
menatap Salman Rudy lama, jarinya mengetuk kayu teras pelan, pelan sekali

Rudy... Sini. Duduk dekat aku. Jangan jauh. 

Malam ini, Aku mau berbisik. Tentang gurumu. Gurunya para wali. Namanya Abu Yazid Al-Busthami.

Salman Rudy:
menunduk dalam, jemarinya saling bertaut
Siap, Guru...

Tuan Guru: 
Kau tahu kenapa dunia menyebut beliau Sultanul ‘Arifin? Rajanya para wali? 

Bukan karena dzikirnya, Rudy.  
Tapi karena satu hal yang kamu paling sering lari darinya... Adab kepada Guru.

Dengarkan baik-baik. Ini kisah pertamamu malam ini.

1. KISAH PERTAMA: “AIR MATA ABU YAZID”

Suatu hari gurunya, Syaikh Abu Ali As-Sindi, berkata lirih:  
“Yazid... cucilah kakiku.”

Coba aku tanya... Bagaimana kalau aku yang menyuruhmu begitu, Rudy?

Salman Rudy:
terdiam, menelan ludah yang pahit 
...Saya cuci, Guru.

Tuan Guru:  
tersenyum tipis, matanya basah
Abu Yazid tidak hanya mencuci, Rud. Ia menangis saat membasuhnya. Lembut. Penuh cinta. 

Selesai? Ia angkat air bekas itu. Di depan semua murid yang menatap, ia minum. Sampai tetes terakhir.

Murid lain berteriak: “Itu air kotor!”

Tahu apa jawab Abu Yazid?  
“Bagi kalian ini kotor. Bagi ku, ini air yang telah menyentuh wali Allah. Di dalamnya ada nur, ada barakah, ada ridha. Aku lebih haus akan ridha guruku daripada air Zamzam.”

Salman Rudy: 
air matanya mulai jatuh, satu persatu

Tuan Guru:
suaranya berat, seperti menahan tangis  
Detik itu juga, Rudy... Langit terbuka. Hijab ma’rifat tersingkap. Dalam semalam, ia melompati murid-murid yang sudah 20 tahun duduk di majelis.

Beliau, Syaikh Abu Yazid, berpesan:  
خِدْمَةُ الشَّيْخِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ عَامٍ  
"Mengabdi kepada guru, lebih utama dari ibadah seribu tahun.”
[Tadzkirah Al-Auliya]

Tuan Guru:  
mengusap kepala Salman Rudy dengan telapak tangan yang kasar tapi hangat
Rudy... 
Kemarin aku suruh kamu menyapu surau, kenapa kau diam saja? 
Minggu lalu suruh mengangkut batu, kenapa mukamu masam?

Aku tidak butuh sapumu, Rud.  
Aku sedang mencari: Masih adakah Abu Yazid di dalam dadamu?

“Rud... Matikan akalmu di hadapan guru. Hidupkan adabmu. Karena di balik perintah yang kau anggap remeh, ada Sirr Allah yang besar. Kalau sapu saja kau merasa berat, bagaimana Allah mau menitipkan amanah ke pundakmu?”

Salman Rudy:  
bahu bergetar, air mata jatuh deras  
Ampun, Guru... Ampuni saya... 

2. KISAH KEDUA: “ROTI DI LEHER”

Tuan Guru:
menarik napas dalam, menatap langit Puncak Legen 
Ada kisah kedua, Rudy. Ini lebih perih.

Datang seorang murid kepada Abu Yazid. Ia alim, hafal kitab, fasih bicaranya.  
Ia meminta: “Syaikh, ijazahkan aku ilmu ma’rifat.”

Abu Yazid tidak memberinya kitab. Ia memberinya luka.  
“Pergi ke pasar. Kalungkan sekeranjang roti di lehermu seperti anjing. Lalu teriaklah: Aku ini anjingnya Abu Yazid.”

Murid pertama itu merah padam wajahnya. “Aku ini ulama! Kau hendak menghinaku?” Ia pergi dengan murka. Dan ia mati dalam keadaan kosong.

Bertahun kemudian datang murid kedua. Ia bodoh, tidak bisa membaca. Tapi hatinya lembut.  
Disuruh hal yang sama, ia langsung sujud, mencium kaki guru, lalu pergi ke pasar dengan senyum ridha.

Ia kembali dengan roti masih tergantung di lehernya.  
Abu Yazid memeluknya erat sambil menangis: "Sekarang kau siap. Aku tuangkan seluruh rahasia yang ada padaku ke dalam hatimu.”

Tuan Guru:
menatap tajam ke dalam mata Salman Rudy 
Rudy... 
Lalu kenapa di sini kau disuruh membersihkan WC? Mengangkut batu?

Itu ujian yang sama, Rud. Ujian Abu Yazid.

Aku tidak benci kamu. Aku sayang kamu.  
Tapi aku benci nafsumu yang berbisik: “Aku ini siapa, disuruh kerja kasar?”

Itu yang harus mati, Rudy. Tugas Mursyid itu memenggal kepalamu, bukan memuji kepintaranmu. Supaya yang hidup di dadamu, hanya Allah.

“Murid yang akan kuijazahkan bukan yang paling pintar. Tapi yang paling patuh, hancur ke-aku-annya. Seperti murid kedua itu. Ia ridha dipermalukan demi Gurunya. Maka Allah mengangkatnya setinggi langit.”

Tuan Guru:
Memeluk kepala Salman Rudy ke dadanya
Dengar ini, dan ukir di hatimu, Rud.
Adabnya Abu Yazid Pelajaran untukmu, Rudy

Taslim Disuruh cuci kaki, langsung laksanakan. Tanpa tanya. Kau disuruh apa saja, laksanakan. Jangan tanya pahalanya.
Ta’dzim Memuliakan air bekas kaki guru. Muliakan gurumu. Cium tangan. Duduk beradab. Jangan membantah.
Takhalli Ridha dipermalukan di pasar. Ridha bekerja kasar. Bunuh gengsimu di sini.
Abu Yazid mengunci semuanya dengan satu kalimat:  
الطَّرِيْقُ كُلُّهُ أَدَبٌ
“Seluruh jalan menuju Allah itu isinya adab.”

Dan aku kunci untukmu, Rudy:  
“Ilmu tanpa adab itu seperti pelita di tangan orang mabuk. Ia akan membakar dirinya sendiri. Adab dulu. Kalau adabmu benar, Allah sendiri yang akan menjadi Gurumu.”(*)


Pondok Pesantren Rahmatan Lil 'Alamin 
Puncak Legen, Situbondo 

Ditulis setelah Tawajjuh Tengah Malam, 03:17 WIB

Referensi: 
1. Tadzkirah Al-Auliya, Fariduddin Al-Attar, Bab Abu Yazid Al-Busthami  
2. Risalatul Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi, Bab Adab Al-Murid Ma’a Syaikhihi
Kembali